TAMAN BUNGA NINING GREENPARK
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
HULMUS SETENGAH BAHAN,INI BERUMUR 4 TAHUN,MEMBONSAI MEMANG BUTUH WAKTU/PROSES YANG LAMA,
HULMUS SETENGAH BAHAN,INI BERUMUR 4 TAHUN,MEMBONSAI MEMANG BUTUH WAKTU/PROSES YANG LAMA,
kunjungi tempat kami di alamat:
jln: purnawirawan3 gunung terang/bandar lampung/indonesia.
tlp: 07217692003.
email: cuwan.cewan@gmail.com.
twiter: @cewandonald.
facebook: cewandonald.
menjual: ........................................................................
- tanaman hias.
- tanaman buah.
- tanaman taman indoor & outdoor.
- tanaman buah koleksi.
- perawatan taman.
- perawatan tanaman buah.
- pembuatan relief/minimalis/dll.
- jual obat tanaman hias,buah
- jual ikan buat kolam hias.
- jual bahan bonsai segala ukuran.
- dan masih banyak yang kami sediakan seperti pot/dll
Gambar 3 Membuat bakalan bonsai dengan cara mencangkok
Gambar 4 Membuat bakalan bonsai dengan cara okulasi

Gambar 5 Membuat bakalan bonsai dengan cara mengenten
////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
:: CARA MEMBUAT BONSAI
A. KREATIVITAS DAN KETEKUNAN SEBAGAI MODAL UTAMA
Membuat bonsai tampaknya mudah dan sederhana. Padahal, membuat bonsai yang baik sebenarnya cukup sulit bagi orang awam dan gampang-gampang susah bagi yang sudah mengetahuinya. Yang jelas, menciptakan bonsai yang baik membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Paling cepat 2-4 tahun. Lamanya waktu tergantung pada jenis tanamannya. Ada 4 ukuran tinggi bonsai yang bisa dipilih, yakni miniature, kecil, sedang, dan rata-rata. Biasanya bonsai miniature tinggi hanya sekitar 5cm dan dipersiapkan selama sekitar 5 tahun. Bonsai kecil tinggi 5-15cm yang membutuhkan waktu persiapan sekitar 5-10 tahun. Bonsai berukuran sedang tinggi 15-30cm yang memerlukan waktui persiapan sekitar 3 tahun. Membuat bonsai membutuhkan kreativitas, ketekunan, ketelitian, dan kasih sayang.
B. MODEL ATAU GAYA BONSAI
Model atau gaya bonsai paling dasar yang perlu dikuasi pemula adalah berdasarkan gaya tumbuhnya, yakni formal dan menggantung. Penjabaran lebih jelas kedua gaya ini adalah sebagai berikut:
a. formal
Model atau gaya formal mengikuti pertumbuhan normal dari tanaman yang bersangkutan. Gaya ini terdiri dari tegak lurus, tegak berliku, dan miring.
Model atau gaya formal mengikuti pertumbuhan normal dari tanaman yang bersangkutan. Gaya ini terdiri dari tegak lurus, tegak berliku, dan miring.
1. Tegak Lurus
Bonsai dengan gaya tegak lurus memiliki batang yang tegak lurus dari pangkal akar sampai ke top mahkota atau puncak batang. Diameter pangkal batang besar dan semakin ke atas batang semakin mengecil. Demikian juga dengan cabang dan ranting pun semakin ke ujung semakin mengecil. Diameter cabang dibagian bawah lebih besar dibandingkan dengan bagian atas. Akar bonsai ini kuat dan menjalar ke segala arah dipermukaan media tanam. Bonsai dengan gaya ini memiliki jarak antar cabang yang tidak merata. Semakin ke atas jarak antar cabangnya semakin rapat. Arah percabangan harus diperhatikan. Pembentukkan bonsai dengan gaya tegak lurus diawali dengan menentukan cabang yang akan dijadikan sebagai top mahkota. Setelah cabang top mahkota ditentukan, batang yang terletak diatasnya dipotong. Sebaiknya, pemotongan batang tersebut menghadap kesamping atau kearah belakang agar bekas pemotongan tidak tampak didepan.
Bonsai dengan gaya tegak lurus memiliki batang yang tegak lurus dari pangkal akar sampai ke top mahkota atau puncak batang. Diameter pangkal batang besar dan semakin ke atas batang semakin mengecil. Demikian juga dengan cabang dan ranting pun semakin ke ujung semakin mengecil. Diameter cabang dibagian bawah lebih besar dibandingkan dengan bagian atas. Akar bonsai ini kuat dan menjalar ke segala arah dipermukaan media tanam. Bonsai dengan gaya ini memiliki jarak antar cabang yang tidak merata. Semakin ke atas jarak antar cabangnya semakin rapat. Arah percabangan harus diperhatikan. Pembentukkan bonsai dengan gaya tegak lurus diawali dengan menentukan cabang yang akan dijadikan sebagai top mahkota. Setelah cabang top mahkota ditentukan, batang yang terletak diatasnya dipotong. Sebaiknya, pemotongan batang tersebut menghadap kesamping atau kearah belakang agar bekas pemotongan tidak tampak didepan.
2. Tegak Berliku
Bonsai dengan gaya tegak berliku memiliki batang yang tegak, tetapi berlekuku-lekuk. Seperti halnya bonsai dengan gaya tegak lurus, bonsai ini juga memiliki pangkal batang yang besar dan semakin ke top mahkota mengecil. Cabang bagian bawah lebih besar dibandingkan cabang dengan bagian atasnya. Namun, cabang bagian atas itu tampak tumbuh di setiap lekukan batang. Cabang bagian bawah dibentuk hingga tingginya sepertiga dari tinggi keseluruhan batang. Lekukan sebaiknya selalu dibuat mengarah kekiri dan kekanan atau sebaliknya. Agar terkesan alami, arah cabang perlu dibuat kedepan agak menyerong kekiri atau kekanan, sehingga lekukannya tampak dari arah depan.
Bonsai dengan gaya tegak berliku memiliki batang yang tegak, tetapi berlekuku-lekuk. Seperti halnya bonsai dengan gaya tegak lurus, bonsai ini juga memiliki pangkal batang yang besar dan semakin ke top mahkota mengecil. Cabang bagian bawah lebih besar dibandingkan cabang dengan bagian atasnya. Namun, cabang bagian atas itu tampak tumbuh di setiap lekukan batang. Cabang bagian bawah dibentuk hingga tingginya sepertiga dari tinggi keseluruhan batang. Lekukan sebaiknya selalu dibuat mengarah kekiri dan kekanan atau sebaliknya. Agar terkesan alami, arah cabang perlu dibuat kedepan agak menyerong kekiri atau kekanan, sehingga lekukannya tampak dari arah depan.
3. Gaya Miring
Bonsai dengan gaya miring mengesankan sebuah pohon yang tumbuh di sebuah lereng atau tanah yang miring. Bonsai dengan gaya ini memiliki pangkal batang yang lebih besar dari pada pucuk batangnya. Akarnya harus terkesan kuat menahan tegaknya pohon. Pembentukan bonsai bergaya miring diawali dengan pengawetan batang. Batang yang tadinya tumbuh tegak diubah arah tumbuhnya ke samping dengan melakukan pengawatan. Lama-kelamaan, batang yang dikawat akan tumbuh miring dengan sendirinya. Arah percabangan sebaiknya dibuat sejajar dengan permukaan tanah atau merunduk kea rah permukaan tanah, sehingga kesan miring bisa terlihat jelas.
Bonsai dengan gaya miring mengesankan sebuah pohon yang tumbuh di sebuah lereng atau tanah yang miring. Bonsai dengan gaya ini memiliki pangkal batang yang lebih besar dari pada pucuk batangnya. Akarnya harus terkesan kuat menahan tegaknya pohon. Pembentukan bonsai bergaya miring diawali dengan pengawetan batang. Batang yang tadinya tumbuh tegak diubah arah tumbuhnya ke samping dengan melakukan pengawatan. Lama-kelamaan, batang yang dikawat akan tumbuh miring dengan sendirinya. Arah percabangan sebaiknya dibuat sejajar dengan permukaan tanah atau merunduk kea rah permukaan tanah, sehingga kesan miring bisa terlihat jelas.
b. Menggantung atau cascade
Gaya ini berlawanan dengan pertumbuhan normal tanaman. Gaya ini ada dua, yakni semi menggantung dan murni menggantung
Gaya ini berlawanan dengan pertumbuhan normal tanaman. Gaya ini ada dua, yakni semi menggantung dan murni menggantung
1. Setengah Menggantung
Bonsai dengan model setengah menggantung mengesankan pohon yang tumbuh di tempat-tempat tandus, seperti tebing yang curam. Pohon di sela-sela tebing pertumbuhannya akan membelok ke atas mencari cahaya. Jika dipindahkan ke pot, pohon itu tampak miring dan menggantung. Bonsai dengan gaya ini puncak atau top mahkotanya tidak boleh melebihi bibir pot
Bonsai dengan model setengah menggantung mengesankan pohon yang tumbuh di tempat-tempat tandus, seperti tebing yang curam. Pohon di sela-sela tebing pertumbuhannya akan membelok ke atas mencari cahaya. Jika dipindahkan ke pot, pohon itu tampak miring dan menggantung. Bonsai dengan gaya ini puncak atau top mahkotanya tidak boleh melebihi bibir pot
2. menggantung
Gaya menggantung sama dengan gaya setengah menggantung, hanya top mahkotanya melebihi atau jauh dibawah biir pot. Cara pembentukannya juga sama dengan pembentukan bonsai bergaya setengah menggantung.
Gaya menggantung sama dengan gaya setengah menggantung, hanya top mahkotanya melebihi atau jauh dibawah biir pot. Cara pembentukannya juga sama dengan pembentukan bonsai bergaya setengah menggantung.
C. TEKNIK MEMBONSAI
a. pemotongan dan pemangkasan
prinsipnya, pemotongan dan pemangkasan dilakukan hingga lukanya rata dengan permukaan pangkal tumbuhannya. Pemotongan batang atau cabang yang kurang sehat atau pertumbuhannya jelek harus mempertimbangkan pertumbuhan cabang atau lainnya yang sehat. Pertumbuhan bisa diperbanyak dengan cara pemotongan akar mengarah ke samping.
prinsipnya, pemotongan dan pemangkasan dilakukan hingga lukanya rata dengan permukaan pangkal tumbuhannya. Pemotongan batang atau cabang yang kurang sehat atau pertumbuhannya jelek harus mempertimbangkan pertumbuhan cabang atau lainnya yang sehat. Pertumbuhan bisa diperbanyak dengan cara pemotongan akar mengarah ke samping.
b. pengawatan
Bertujuan membentuk batang, cabang, dan ranting agar tumbuh sesuai dengan arah yang diinginkan. Pengawatan harus dilakukan dengan hati-hati. Jangan terlalu kencang, tetapi jangan terlalu longgar.
Bertujuan membentuk batang, cabang, dan ranting agar tumbuh sesuai dengan arah yang diinginkan. Pengawatan harus dilakukan dengan hati-hati. Jangan terlalu kencang, tetapi jangan terlalu longgar.
c. posisi bonsai di pot
Posisi yang sempurna ditentukan oleh letak tanaman di pot yang digunakan. Posisi bonsai tergantung pada gaya yang digunakan. Jadi, bonsai tidak harus ditanam ditengah-tengah pot. Dipot persegi panjang, lonjong, atau oval, atau pot memanjang, tanaman bisa diletakan dengan jarak sepertiga dari sisi pot.
Posisi yang sempurna ditentukan oleh letak tanaman di pot yang digunakan. Posisi bonsai tergantung pada gaya yang digunakan. Jadi, bonsai tidak harus ditanam ditengah-tengah pot. Dipot persegi panjang, lonjong, atau oval, atau pot memanjang, tanaman bisa diletakan dengan jarak sepertiga dari sisi pot.
d. penanaman
Langkah-langkah penanaman bonsai:
Langkah-langkah penanaman bonsai:
- siapkan pot, media tanam, dan bakalan bonsai
- kurangi akar bakalan bonsai agar sesuai dengan ukuran pot
- masukkan sebagian media tanam ke dalam pot
- tanam bakalan dengan posisi tanam yang pas
- masukkan kembali media tanam untuk menguatkan posisi tanam tersebut, kemudian padatkan menggunakan ujung jari dan telapak tangan
- rawat bonsai dengan baik
e. Menciptakan kesan tua
Bonsai akan lebih bagus jika tanaman tersebut diberi kesan tua. Kesan tua ini biasanya ditandai dengan pertumbuhan cabang yang rata-rata merunduk ke bawah dan akar yang menjalar sampai permukaan tanah
Bonsai akan lebih bagus jika tanaman tersebut diberi kesan tua. Kesan tua ini biasanya ditandai dengan pertumbuhan cabang yang rata-rata merunduk ke bawah dan akar yang menjalar sampai permukaan tanah
Pameran Bonsai Semarang 2014
Pameran Bonsai Semarang 2014 telah diselenggarakan pada tanggal 3-16 November 2014 di Taman KB, Jl. Menteri Supeno Semarang. Event yang bertajuk Pameran Nasional Bonsai Kota Semarang 2014 (Go Green Bonsai Kota Semarang) ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Pecinta Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Semarang bekerja sama dengan Pemkot Semarang.
Meskipun sebuah pameran atau kontes bonsai pada umumnya tidak memperebutkan hadiah yang berupa uang, namun tetap ramai diikuti oleh para kolektornya untuk meningkatkan peringkat bonsai yang dimilikinya. Bahkan beberapa kolektor rajin mengikuti berbagai kontes baik yang diselenggarakan di dalam negeri maupun di luar negeri.
Ada ratusan bonsai dipamerkan, panitia mengklaim ada sejumlah 379 bonsai dari seluruh Tanah Air mengikuti pameran ini. Terdiri dari bonsai kelas prospek, regional, madya, utama sampai kelas bintang sebagai level tertinggi. Team juri melakukan penilaian seluruh bonsai yang ikut berpartisipasi, dan setelah semuanya kelar barulah dibuka untuk disaksikan bagi masyarakat umum mulai tanggal 9-16 November 2014.
Bonsai kelas prospek adalah tanaman yang dianggap masih berupa bakalan, masih membutuhkan training lebih lanjut untuk menyempurnakan menjadi bonsai yang bernilai tinggi. Kelas regional diperuntukkan bagi bonsai-bonsai yang belum pernah ikut pameran atau kontes. Jadi meskipun merupakan kelas rendah dan pendatang baru, namun terkadang kualitas dan nilainya bisa menyaingi kelas yang ada di atasnya.
Pada event ini, diadakan pula bursa bonsai. Bursa ini banyak dimanfaatkan oleh para pekebun bonsai dengan membuka stand untuk memajang bakalan atau bahan bonsai hasil produknya. Hari Sabtu 8 November lalu saya datang ke lokasi ini, tentu saja dengan maksud memuaskan hasrat menangkap seluruh keindahan bonsai yang dipamerkan dalam bentuk koleksi foto. Namun ternyata ruang pamernya belum dibuka untuk umum. Kekecewaan terobati dengan banyak ngobrol dengan para pekebun bonsai yang rata-rata sangat bersahabat dan tentu saja sangat antusias ngobrol tentang pohon kerdil yang cantik dan anggun ini. Tentang bursa ini silahkan baca lebih lanjut pada artikel Bursa Bonsai 2014 di Taman KB Semarang.
Kesempatan memotret dengan leluasa baru terlaksana seminggu berikutnya. Memotret bonsai di pameran relatif lebih mudah dan efektif dibanding memotret langsung di kebun atau nurseri pemiliknya. Bonsai-bonsai dengan performa terbaik berkumpul di satu tempat, dan ditata dengan asesories yang sesuai dengan gaya sebuah bonsai. Selain itu setiap tanaman selalu disertai dengan informasi nama, pemilik dan tentu saja peringkat yang telah diraih.
Event seperti ini sangat pantas untuk diapresiasi. Sebagai upaya untuk menyejuk-hijau-segarkan kehidupan sosial masyarakat Semarang yang terletak di tepi pantai yang relatif panas. Pemerintah kota Semarang sendiri beberapa tahun belakangan terus berupaya mendukung agenda budaya dan agenda lain yang ramah lingkungan seperti pameran hortikultura yang diadakan 6 bulan lalu dan juga pameran dan bursa bonsai pada bulan November ini.
Mudah-mudahan acara-acara seperti ini terus diadakan berkesinambungan. Tidak sekedar hangat-hangat tahi ayam. Saya yakin, masyarakat kota Semarang pecinta tanaman akan sangat menghargai upaya ini. Apalagi jika pemkot konsisten seperti tekatnya untuk mengadakan agenda expo yang berhubungan dengan Flora dan Fauna setiap 6 bulan sekali di Taman KB ini. Siapa tahu, suatu saat Taman KB Semarang ini menjadi setenar Lapangan Banteng di Jakarta sebagai tempat Expo Flora Fauna berkualitas Internasional.
Pameran bonsai kolosal dan berskala internasional juga telah diadakan di Yogyakarta: International
Cara Membuat Bakalan Bonsai
Bakalan bonsai tidak hanya dapat diperoleh di alam saja, tetapi dapat juga dibuat sendiri. Membuat bakalan bonsai memerlukan ketelatenan dalam pemeliharaannya. Pembentukannya juga memerlukan waktu yang sangat lama. Namun, bakalan bonsai buatan sendiri sangat ideal karena bukan hasil dari tindakan perusakan lingkungan dan jumlahnya yang didapat banyak sesuai keinginan pembonsai. Membuat bakalan bonsai dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya yaitu: penyemaian biji, stek, cangkok, okulasi dan enten. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing dari cara membuat bakalan bonsai tersebut.
1. Penyemaian biji
Bibit tanaman yang berasal dari biji sebenarnya bukan merupakan bakalan bonsai yang baik. Tanaman dari biji akan tumbuh sebagai pohon normal seperti di alam. Akan tetapi, tanaman dari biji sangat diperlukan untuk pembuatan bakalan bonsai dengan cara vegetatif (setek, cangkok, dan enten).
Menyemai biji memerlukan waktu yang cukup lama, bahkan banyak diperoleh tanaman yang tidak baik. Untuk mengatasinya, sebaiknya bagi pembonsai sebagai hobi menyerahkan kegiatan penyemaian biji pada pembibit bakalan bonsai. Namun, apabila akan melakukannya sebagai penjual bibit tidak ada salahnya kalau pekerjaan tersebut dilakukan sendiri. Bakalan bonsai yang dapat diperoleh dengan cara penyemaian biji yaitu: tanaman delima, kemuning, siantho, cemara, asam, jambu biji, jeruk, dan sawo.
Sumber: Pessey & Samson 1992
Gambar 1 Bakalan bonsai dari hasil penyemaian biji yang sudah bertunas
2. Stek
Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan suatu perlakuan pemisahan atau pemotongan bagian tanaman (batang, akar, daun atau tunas) untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Terdapat tiga jenis stek di dalam budidaya tanaman yaitu: stek lunak, stek setengah lunak dan stek keras.
- Stek lunak merupakan cara menyetek dengan bahan stek yang belum berkayu. Pada stek lunak bahan yang diambil berupa pucuk ranting atau cabang yang masih muda dan masih dalam masa pertumbuhan.
- Stek setengah lunak juga hampir sama dengan stek setengah lunak yaitu menyetek dengan bahan stek yang belum berkayu. Hanya saja bahan yang diambil yaitu dari ranting atau cabang yang pertumbuhannya sudah terhenti dan batang serta daunnya mulai menua.
- Stek keras merupakan cara menyetek dengan bahan berasal dari dahan yang sudah berumur sekitar setahun atau lebih.
Bakal bonsai yang dapat diperoleh dengan cara stek yaitu: tanaman Ficus, sawo durian, jambu biji, delima, jeruk, buni, dan murbai.
Sumber: Pessey & Samson 1992
Gambar 2 Membuat bakalan bonsai dengan cara stek
3. Cangkok
Cangkok merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang bertujuan untuk memperbanyak tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya. Mencangkok biasanya dilakukan dengan cara menguliti hingga bersih dan menghilangkan kambium pada cabang atau ranting sepanjang pada tanaman dikotil untuk kemudian dipindahkan ke dalam wadah lain saat akar telah tumbuh.
Membuat bakalan bonsai dengan cangkok akan lebih cepat tumbuh akarnya dibandingkan dengan cara stek. Bahan tanaman yang akan dicangkok merupakan dahan pohon yang sudah berkayu dan kulitnya mudah mengelupas. Bakal bonsai yang dapat diperoleh dengan cara mencangkok yaitu tanaman beringin, ulmus, asem, sawo dan jambu biji.
4. Okulasi
Okulasi merupakan suatu teknik perbaikan kualitas tanaman dengan cara vegetatif buatan yang dilakukan dengan menempelkan mata tunas dari tanaman yang unggul ke batang tanaman lainnya. Bahan okulasi terdiri atas batang atas dan batang bawah. Batang bawah merupakan tanaman dari biji yang disebut juga dengan pohon induk, sedangkan batang atas (mata tunas) merupakan pohon penghasil entris (ranting yang diambil mata tunasnya). Tanaman yang dapat dijadikan batang bawah yaitu tanaman yang sudah berumur di atas satu tahun, sedangkan untuk batang atas yaitu dari ranting yang tampak agak tua, bentuknya agak bulat, warnanya agak keabu-abuan, dan kulitnya mudah terlepas dari kayunya.
5. Enten
Pada dasarnya mengenten pada tanaman sama dengan melakukan okulasi. Perbedaannya terdapat pada bakal batang atasnya. Pada okulasi batang atasnya berupa mata tunas, sedangkan batang atas pada enten berupa sepotong ranting.
Pada dasarnya mengenten pada tanaman sama dengan melakukan okulasi. Perbedaannya terdapat pada bakal batang atasnya. Pada okulasi batang atasnya berupa mata tunas, sedangkan batang atas pada enten berupa sepotong ranting.
Gambar 5 Membuat bakalan bonsai dengan cara mengenten
Sumber:
Hardiansyah B. 2006. Membuat dan Mempercantik Bonsai untuk Pemula. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka.
Paimin FB, Nazaruddin. 1992. Seni Bonsai Lanjutan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pessey C, Samson R. 1992. Bonsai Basics: A Step-By-Step Guide to Growing, Training and General Care. New York: Sterling.
Sigit S. 1993. Bonsai: Cara Membuat dan Merawat Pohon Mini. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
.jpg)
.jpg)

mangKoko says:
Konon event semacam ini, dengan tema yang mungkin berbeda akan diadakan setiap 6 bulan sekali. Semoga penyelenggara bisa konsisten!